Malam tak harus gelap, malam tak harus redup, bintang di langit sering nampak cerah dan indah, bintang di langit kadang tak cerah dan tak indah, sinar bulan terasa terang dan indah, sinar bulan kadang tak terang dan tak indah, sinar bulan kadang redup. Ternyata...semua itu tergantung awan di langit. Jika awan “menutupi” bintang, maka bintang tidak nampak...yang nampak hanya keindahan sinar bulan. Andai itu terjadi, mungkin Si Bintang akan cemburu dengan terangnya sinar bulan. Jika awan “menutupi’ sinar bulan, maka sinar bulan akan “tidak nampak”, yang nampak terang bintang. Andai itu terjadi, maka Si Bulan akan cemburu dengan gemerlapnya sinar bintang. Antara ” impian, harapan dan kenyataan”,... impian bisa menjadi harapan dan harapan bisa menjadi kenyataan,...ternyata tidak cukup sekedar impian, harapan, dan kenyataan...karena masih butuh do’a dan usaha. Impian diiringi do’a akan bisa berubah harapan. Harapan diiringi usaha akan berubah kenyataan... Semua itu ternyata masih kurang cukup jika sekedar bantuan “do’a dan usaha”... karena masih ada sifat cemburu, iri, apalagi dengki hati. Rasa cemburu yang berlebihan, bisa membutakan segalanya. Bukankah semua itu tergantung situasi dan kondisi?,... tergantung bagaimana kita mempersepsikan?,... bukankah pada saatnya apa yang akan kita kehendaki akan terwujud?.... awan bisa datang dan pergi,...cemburu akan datang dan pergi,... mengapa harus saling menyalahkan?... mengapa harus saling mengalahkan?....eman-emaan-emaaan, tenan. Lagi-lagi, tergantung bagaimana kita memaknai sesuatu di sekitar kita. Hingga kita menjadi pribadi yang rasional, tenang, siip,... InsyaAlloh.
Bagaimana kajian Filsafat Ilmu dari ilustrasi tersebut di atas?
1. Ontologi?
2. Epistemiologi?
3. Aksiologi?