MAKIN BANYAK BELAJAR / MEMBACA, "MAKIN MERASA BODOH"
1 dari 2 Kompasianer menilai Inspiratif.
Ketika seorang teman mendapat beasiswa untuk meneruskan studi ke luar negeri, teman yang lain komentar: dia masih bodoh, makanya distudikan ke luar negeri. Aku pikir teman itu berkomentar karena iri, dan aku tahu bahwa teman yang dapat beasiswa itu memang pandai sedangkan teman yang komentar biasa saja, tidak berprestasi.
saya bukan orang pandai, juga tidak mendapat kesempatan studi secara formal ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi keingintahuan yang mendorong untuk belajar/membaca banyak. Belajar kan tidak perlu studi formal. Ketika saya mencoba membaca buku tentang filsafat, yang kata orang filsafat itu induknya semua ilmu pengetahuan. Ternyata dalam filsafat ada banyak filsuf dan faham yang berbeda-beda. Ketika mendalami pandangan Thomas Aquinas, eh… ada filsuf lain yang meneruskan pandangannya, dan ada yang kontra. Belum banyak buku filsafat yang sudah aku baca, dan masih buaaaa…..nyak lagi yang belum aku baca.
Dalam kompasiana ada kategori: edukasi, ekonomi, filsafat, kesehatan, polhukam dll… dan ketika membuka dan membaca satu-persatu ada pengetahuan baru yang aku temukan, tetapi hanya membuat penasaran.
Mengapa penasaran?
Karena membuat aku merasa bodoh, ternyata aku tidak tahu banyak tentang edukasi, ekonomi, kesehatan, polhukam, tehnologi, dan……begitu buuaaaanyak hal yang aku tidak tahu. Makin banyak baca, ternyata membuka wawasan tentang banyak hal yang aku tidak tahu, jadi membuat "aku merasa semakin bodoh". Tetapi aku akan belajar/membaca terus biar menjadi orang yang "merasa paling bodoh" di dunia.